WELCOME

Manusia tidak diberikan ilmu oleh Allah melainkan hanya sedikit.

Sabtu, 31 Maret 2012

intan dan arang (refleksi hidup)

Ketika kita melihat sumbernya, mereka adalah sama. Hanya unsur carbon yang berikatan. Intan unsur karbon yang berikatan di keempat sisinya, sedang Arang berikatan 3. Tapi saat ditelisik lebih jauh, terkuak banyak perbedaan yang menjadikan slah satu lebih dari yang lain.
Mulai dari pembuatannya, arang hanya sisa pembakaran yang tidak sempurna. Cukup membakar kayu dan kemudian dimatikan apinya agar pembakaran jadi tak sempurna. Intan, perlu waktu lama, suhu dan tekanan ekstrim. Barulah ia tercipta.
Produk dari tempaaan waktu, tekanan tinggi, dan suhu yang ekstrim secara kontinyu pastilah jauh lebih baik dari sekedar dibakar dengan suhu secukupnya dan dimatikan. Berkarakter kuat, keras, bersinar, bening, dan mampu mengindahkan yang memandang. Ia hanya bisa dipotong dengan air yang bertekanan tinggi. Itulah intan. Yang mampu memotong baja yang keras. Arang yang legam hitam, hanya berharga sedikit bagi manusia. Siapa yang memungkiri itu??
Adakah manusia sama dengan sang karbon?? Ya, manusia dengan tempaan, ujian, cobaan dari Tuhannya, akan menjadikan jiwanya sekuat dan setegar intan, pun dengan hatinya, ia bening seperti intan. Tingkah lakunya akan mengindahkan kehidupan sekitarnya. Bentuk sinar yang terpancar oleh intan di tiap sudutnya berbeda, tapi dari setiap sudutnya, yang terlihat adalah keindahan. Itulah manuasia yang tertempa, dia akan terlihat oleh sekitar bersinar dengan keindahan yang berbeda di tiap sudut pandangnya. Tak hanya itu, qalbunya pun kan senantiasa menelaah segala kejadian-kejadian yang dapat mengintrospeksi dirinya bahwa ia bukanlah yang orang yang super. Ia dapat diingatkan oleh kelembutan yang bertekanan dan menusuk qalbunya. Peringatan yang selalu di arahkan kepada ketidaksempurnaan dirinya layaknya sang intan yang lemah dan terbelah oleh makhluk lembut namun bertekanan seperti air.
Tuhan telah memberikan kesempatan manusia untuk menjadi intan, tapi terkadang manusia hanya menginginkan cobaan-cobaan kecil yang hanya menjadikannya arang dengan menghukumi diri sendiri bahwa ia tak punya kesanggupan menghadapi ujian. Padahal Tuhanlah yang paling mampu menilai kita. Haruskah kita mengecewakan Tuhan akan kepercayaan yang diberi-Nya dengan menyebut bahwa diri kita tidak sanggup padahal Tuhan telah menyatakan kita MAMPU.
Hadapilah semua dengan senyuman, tanamkan sangkaan yang baik terhadap Tuhan bahwa pemberian ini semua untuk kebaikan kita, dan tak lupa memohon kekuatan kepada-Nya. Bukankah kita ingin menjadi intan-intan itu?????

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar