WELCOME

Manusia tidak diberikan ilmu oleh Allah melainkan hanya sedikit.

Minggu, 01 April 2012

Validasi Metode uji



            Validasi adalah konfirmasi melalui pengujian dan kelengkapan bukti-bukti obyektif bahwa persyaratan-persyaratan khusus untuk tujuan kegunaan tertentu telah terpenuhi. Validasi dapat dilakukan secara menyeluruh (validasi lengkap) maupun dapat dilakukan secara parsial (validasi sebagian) tergantung dari kebutuhan. Parameter-parameter yang termasuk atribut dari validasi antara lain : presisi, Akurasi, limit deteksi, dan lain-lain.

Presisi
            Presisi adalah keterdekatan antar nilai yang dihasilkan dari pengujian yang berbeda dan independen dibawah kondisi penetapan. Penetapan presisi diuji dengan cara analisis contoh berulang dan hanya tergantung pada distribusi kesalahan acak dan tidak berhubungan dengan nilai sebenarnya yang diterima. Presisi dinyatakan sebagai simpangan baku (standar deviasi), koefisien variasi (KV), atau simpangan baku relatif (relative standard deviation). Penentuan presisi mencakup pengujian parameter repitabilitas, presisi antara dan reprodusibilitas.
            Repitabilitas menyatakan keterulangan yang dilakukan pada laboratorium yang sama pada rentang waktu yang singkat dan dilakukan oleh analis yang sama dengan menggunakan pereaksi yang sama. Tujuan parameter ini adalah melihat konsistensi analis, kesulitan metode, kesesuaian metode dan contoh uji.
            Presisi antara menyatakan presisi yang dilakukan pada laboratorium yang sama pada hari yang berbeda oleh analis yang berbeda. Tujuan parameter ini adalah untuk memastikan pada laboratorium yang sama metode akan menyediakan hasil yang tidak berbeda nyata.

Akurasi
            Uji ini dilakukan kepada contoh yang diperkaya (spike) dengan sejumlah analit yang diketahui kuantitasnya. Spike adalah matriks contoh yang mengandung suatu kisaran analit. Diharapkan nilai recovery yang dihasilkan mendekati 100%. Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui adanya kesalahan sisematik. Untuk syarat rentang recovery yang diterima tergantung dari jumlah analit yang akan diukur.
Analit pada matriks sampel (%)
Rata-rata yang diperoleh (%)
100
98-102
>10
98-102
>1
97-103
>0,1
95-105
0,01
90-107
0,001
90-107
0,0001 (1 ppm)
80-110
0,00001 (100 ppb)
80-110
0,000001 (10 ppb)
60-115
0,0000001 (1 ppb )
40-120
Sumber : Harmita, 2004

Limit Deteksi
            Limit deteksi adalah jumlah terkecil analit pada contoh uji yang dapat diditeksi dan memberikan respon signifikan dibandingkan dengan blanko. Pada analisis instrumen, batas deteksi dapat dihitung dengan mengukur respon blanko beberapa kali lalu dihitung simpangan baku respon blanko (Harmita, 2004). Limit deteksi adalah 3 kali simpangan baku respon blanko.

Linieritas
           parameter ini harus di uji untuk analisa uji yang menggunakan perbandingan (perbandingan dengan standar). batas keberterimaan yang dikehendaki adalah r = 0.995. kurva kalibrasi harus linier karena jika kurva kalibrasi sudah tidak linier lagi, maka kesalahan hasil dalam analisa uji perbandingan semakin besar. 

konfirmasi identitas
           Biasanya dilakukan untuk analisa instrumental seperti pada HPLC, LCMSMS, GC, GCMS, dll. uji konfirmasi identitas ini dilakukan untuk memastikan bahwa area yang dihasilkan memang benar berasal dari senyawa yang akan dianalisa dan tidak ada pengaruh dari matriks, interferensi, dan ion suppresion. untuk HPLC bisa dilakukan konfirmasi identitas dengan scanning panjang gelombang. Untuk detektor MS (mass spectrometer)  biasa digunakan massa dari senyawa itu plus retention time.

Estimasi Ketidakpastian

            Hasil pengukuran adalah nilai perkiraan atau estimasi dari kuantitas yang diukur. Ketidakpastian dari pengukuran kuantitatif tidak dilaporkan sebagai nilai tunggal tetapi dilaporkan dengan suatu rentang nilai yang diperkirakan nilai benar berada didalam nilai tersebut. Hasil pengukuran yang bervariasi mencerminkan penyimpangan yang disebabkan oleh faktor kinerja alat, metode pengukuran, kondisi lingkungan, dan sebagainya.  Dalam pengukuran kimia melalui banyak tahapan dan memakai beberapa alat sehingga harus dihitung ketidakpastiannya.
Sumber Ketidakpastian
            Setiap faktor dalam tahap pengukuran mempunyai potensi timbulnya ketidakpastian. Faktor tersebut antara lain :
1.    Ketidaklengkapan definisi atau spesifikasi dari kuantitas yang diukur.
2. Ketidaksempurnaan penerapan metode atau prosedur pengukuran yang                                                     digunakan di laboratorium.
3.    Kondisi lingkungan pengukuran.
4.    Pengambilan contoh.
5.    Efek peralatan kerja.
6.    Efek personil.
7.    Efek lain dalam pengujian kimia seperti : persiapan contoh, efek kontaminasi, kemurnian reagent, dan lain sebagainya.
Tahapan Estimasi Ketidakpastian
Tahap I : Menentukan spesifikasi kuantitas yang diukur dengan formula atau persamaan.
            Pernyataan ditulis secara jelas tentang apa yang akan diukur termasuk hubungan antara besaran ukur dan input besaran (seperti besaran yang diukur, konstanta, nilai standar kalibrasi, dan sebagainya).
Tahap II : Identifikasi sumber ketidakpastian.
1.      Membuat daftar dari semua ketidakpastian .
2.      Membuat diagram fishbone.
Parameter yang termasuk sumber ketidakpastian tersebut digunakan untuk membentuk cabang utama dari diagram. Penambahan faktor lain yang mempengaruhi pengukuran ditulis sebagai cabang dari cabang utama diagram.
Tahap III : Kuantifisasi komponen ketidakpastian.
Semua komponen ketidakpastian dikuantifikasi. Yaitu nilai yang dikontribusikan oleh masing-masing sumber ketidakpastian tersebut.
Tahap IV : Perhitungan ketidakpastian gabungan.
1.      Aturan ketidakpastian gabungan.
Penggabungan ketidakapstian baku ada tiga aturan, yaitu :
a.       Aturan penjumlahan atau pengurangan.
Model : Y = a + b + c
Ketidakpastian gabungan :
µc (Y) =
b.      Aturan perkalian atau pembagian.
Model Y = a. b. c atau a. b/c
Ketidakpastian gabungan
µc (Y) =
c.       Aturan yang melibatkan pangkat.
Model : Y = an
Ketidakpastian gabungan
µc (Y) =
2.      Aturan ketidakpastian diperluas.
Ketidakpastian baku gabungan yang diperoleh dikalikan dengan faktor cakupan yang dipilih untuk memperoleh ketidakpastian diperluas. Ketidak pastian yang diperluas dihitung sebagai berikut :
U = k x µc (Y)
Untuk ketidakpastian diperluas pada tingkat kepercayaan 95% digunakan faktor cakupan (k) = 1,96 atau 2.
3.      Pelaporan hasil pengujian.
Pembuatan laporan hasil uji dan ketidakpastian menggunakan formula = ( Y ± U ) (satuan), dengan menambahkan pernyataan tingkat kepercayaan dan faktor cakupan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar