WELCOME

Manusia tidak diberikan ilmu oleh Allah melainkan hanya sedikit.

Kamis, 14 Juni 2012

Bahaya Lisan



Begitu banyaknya bahaya-bahaya yang disebabkan oleh lisan. Bahkan ada yang mengatakan bahwa lisan lebih tajam dari sebuah pedang. Pedang hanya bisa melukai orang secara fisik,  tetapi dengan lisan, bisa melukai hati, jiwa, dan bahkan bisa terjadi dendam dan pertumpahan darah diantara sesama manusia. Banyak riwayat yang menyatakan kerugian dari lisan lebih besar daripada perbuatan lainnya.
Kita lihat pejabat penting di negeri ini yang mengumbar janji mereka hanya untuk sebuah kedudukan dan pangkat duniawi saja. Mereka menjual perkataan mereka untuk mendapatkan segudang kenikmatan dunia.
Mungkin setelah ini akan dipaparkan tentang bahaya lisan yang harus kita hindari dari hidup kita.
Bahaya lisan yang jelas akan terjadi ketika kita tdak mau meninggakannya:
1.)    mengurangi adab
            Pada dasarnya orang semakin banyak menggunakan lisannya hanya untuk yang tidak bermanfaat hanya akan mengurangi adab mereka. Mereka sudah dilenyapkan  dari rasa Haya’ ( malu ). Mereka dengan seenak hati melontarkan omong kosong yang tidak jelas kebenarannya. Mereka hanya berkata-kata tanpa mengandung manfaat dan hikmah sama sekali.
            Berbicara mengenai haya’, dibagi menjadi dua macam. Yaitu malu naluri (haya’ nafsaniy) dan malu imani ( haya’ imani).
            Malu naluri adalah malu yang dikaruniakan Allah kepada setiap diri manusia, seperi rasa malu kelihatan auratnya, dll.
            Malu imani adalah rasa malu yang bisa mencegah seseorang dari perbuatan maksiat karena takut dengan dzat yang maha pencipa yang selalu mengawasi setiap detik, setiap jengkal waktu yang terus dilewati.
            Orang bijak mengatakan, “ tanda keimanan kepada Allah ada empat.yaiu  Taqwa, punya rasa malu, selalu bersyukur dan sabar.”
            Semoga kita idak termasuk golongan yang telah kehilangan rasa malu kita. Semoga Allah tetap menjaga hai-hati kita unuk senantiasa malu terhadap perbuaan kemaksiatan.
           
2.)    Turun derajatnya.
 Selain itu akibat dari lisan yang tidak terjaga, seseorang dalam pergaulannya akan turun wibawanya. Bisa dibayangkan ketika kita hanya tertawa girang melihat orang yang sedang terbelit kesusahan.  Sungguh tidak punya derajat orang orang seperti itu.  Di mata kaum yang lain, yang masih memiliki hati nurani, orang seperti ini sudah dianggap tidak ada harganya. Dia lebih baik tidak ada di sekitar mereka daripada setiap hari hanya kelakar-kelakar tak perlu yang dia keluarkan. Bahkan mungkin keika dia ditunjuk sebagai pemimpin, dia akan diacuhkan dan tidak akan diperhatikan omong kosongnya. Ketika dia sedang serius untuk memecahkan suau masalah, bawahannya hanya menganggap dia sedang bermain-main supaya dilihat bisa bekerja dengan baik. Bawahannya justru akan mengunjingkan kegiatan-kegiatannya. apa lagi yang bisa diharapkan dari hidupnya?.
Sungguh orang yang seperti itu biasanya hidupnya tidak akan tenang sebelum dia melihat orang lain berbuat kesalahan ataupun tertimpa musibah dan dia baru bisa tertawa sepuasnya setelah  melihat ‘kekonyolan’ yang dilakukan orang lain. Ini sungguh jauh dari nilai-nilai aqidah islam. Islam mengajarkan  bahwa kita harus saling membantu, ikut merasakan penderitaan orang lain yang sedang erimpa musibah. Ibarat sebuah kesatuan tubuh yang utuh, ketika salah satu dari anggota badan kita sakit, maka semua anggota badan yang lain akan juga merasakan sakitnya.  
Dengan jelas diterangkan dalam AlQur’an dalam surat Ali Imran ayat 103 bahwa umat islam harus bersatu.
dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai. Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan, maka Allah menjinakkan antara hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara…..” (Q.S. Ali Imran 103).
Mungkin bagi sebagian orang, dengan kedudukan sebagai direktur, manager, gubernur, bupati, ataupun jabatan penting yang lain akan menaikkan derajatnya. Mereka beranggapan semakin tinggi jabatan, semakin tinggi derajatnya dimata manusia. 
Sebagian besar komunitas gila hormat pasti  akan mengiyakan pedapat iu. Tetapi apa yang difikirkan  kaum muslim sejati pasti berbeda. Menurut islam, kondisi seperi itu tidak meninggikan pangkat mereka. Mereka hanya berlomba-lomba menurunkan derajat mereka dimata Allah sebagaimana dikatakan dalam Al Qur’an, surat Al An’aam aya 132. yang artinya :
“dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat yang seimbang dengan apa yang mereka kerjakan. Dan Tuhanmu tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.”
Ayat diatas menjelaskan dengan gamblang bahwa derajat kita dimata Allah ditenukan oleh perilaku kita sendiri. Bukan pandangan dari orang lain. Orang yang senantiasa dekat dengan Allah akan merasa senang ketika mereka tinggi derajatnya dimata Allah walaupun orang orang disekelilingnya menganggap dia hina. Namun orang-orang yang ‘hubbud dunya’ (cinta dunia) merasa derajat manusia disisi manusia yang lain adalah menunjukkan eksistensinya dalam hidup bermayarakat, berbagsa dan bernegara. Mereka tidak peduli dengan  derajat yang diberikan oleh Tuhan.
Cinta dunia adalah sebuah sifat yang tentu saja akan merugikan kita. Cinta dunia hanya akan membawa kita menikmati kemenisan-kemanisan fana. Menurut  Rasulullah S.A.W. dalam hadistnya :
barang siapa yang yang hatinya telah terlapisi dengan kecintaan dunia, maka ia akan selalu diliputi tiga hal, yaiu : kesengsaraan yang tiada habisnya; rakus yang tidak berkesudahan; dan angan-angan yang tiada ujungnya.”(H.R Thabrani)
Salah satu bahaya dari cinta dunia adalah panjang angan-angan. Mereka menggunakan modal dari Allah berupa waktu yang suatu saat akan habis untuk mengkhayalkan kenikmatan-kenikmatan dunia.  Seketika dia telah mendapatkannya, dia akan menghayalkan angan-angan dunia yang jauh lebih besar lagi, bahkan mungkin bila perlu mereka menghayalkan menjadi orang nomor satu bagaimanapun caranya.
Berhubungan dengan panjang angan-angan, allah telah mengecam panjang angan-angan sebagaimana firman Allah yang artinya :
Biarkan mereka (didunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong. Kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka).” (Q.S. Al Hijr 3)
Akibat dari panjang angan-angan  menurut sahabat Ali adalah menyebabkan lupa akhirat. Ini sangat relevan dengan dengan kondisi saat ini. dimana orang cenderung kepada prinsip materialistis. Semua harus dengan uang. Kalau istilah anak gaul sekarang, “kalo ga’ ada uang mending ke laut aje…!!!”  atau mungkin celotehan “ada uang abang datang, ga’ ada uang abang kutendang”. Prinsip-prinsip itulah yang sebagian besar diusung oleh para penganut paham materialistis.
Sudah tidak diragukan lagi, mereka akan selalu mengingat dunia dan melupakan akhirat. Kita ingat cerita tentang salah sau sahabat nabi yang bernama Sa’labah. Dia lupa akan akhirat ketika Allah memberikan kekayaan padanya. Paham materialisik telah meracuninya. Bahkan ketika diperintahkan untuk berzakat, dia menolak dengan alasan dia mencari kekayaan dengan usaha dan jerih payahnya. Itulah titik kulminasi dari sa’labah yang kemudian dengan izin Allah dia kembali menuju kemelaratan dunia tetapi dia kaya akan akhirat.
Harus kita hilangkan anggapan bahwa orang yang ingin meraih pangkat zuhud adalah orangnya harus miskin, tidak boleh kaya, selalu merasakan penderitaan dunia, dan tidak ingin menikmati dunia. 
Padahal, dikalangan kaum muslimin cukup banyak orang yang kaya dunia dan kaya akhirat. Sebut saja sahabat Ustman bin Affan R.A. beliau menjadi konglomerat kelas atas, namun dia termasuk orang yang zuhud. Dia gunakan seluruh hrtanya dijalan Allah. Dia tidak menikmati keduniannya. Dia lebih memilih akhirat sebagai tempat tujuannya. Para ahli hikmah menyatakan bahwa orang yang bijaksana adalah orang yang meninggalkan dunianya untuk akhiratnya.  
Kembali ke persoalan bahaya lisan. Banyak dari kita mungkin belum menyadari jika kita melakukan kesalahan terhadap orang lain dengan lisan kita, akan menurunkan derajat kita dimata mereka.
Kita ambil contoh lagi. Orang yang biasanya suka bersilat lidah dengan orang lain pasti omongannya sedikit demi sedikit tidak akan digubris oleh orang yang mendengarnya. Mereka akan berpikiran bahwa orang itu hanya memanaskan kuping mereka dengan   ‘jilatan-jilatan’ nya  untuk meraih simpati dari orang lain. Orang yang seperti ini biasanya suka sekali menyanjung orang didepannya dan merendahkan orang dibelakangnya.
Oleh karena itu mulailah dari saat ini dan sekarang kita hilangkan sifat-sifat  sedemikian mengingat kita akan diurunkan derajatnya bukan hanya dimata orang lain tetapi juga yang terpenting adalah kita direndahkan derajatnya oleh Allah.

3.)    mati hatinya
orang yang tidak dapat mengendalikan lisannya juga bisa menyebabkan hatinya mati.  Dia sudah tidak mempunyai hati lagi. Rasa malu telah sirna dari hatinya. Dan ketika hati sudah mati, maka segala nasehat hanya dianggap sebuah angin lalu. Sebuah kritikan yang membangun  hanya dikatakan  sebagai sebuah wujud keirihatian dari orang yang mengkritik. Mereka menganggap diri mereka paling benar. Mereka tidak mau menerima saran saran dari orang lain.
Sungguh celaka orang yang hatinya telah mati. Mereka akan semakin jauh dari Allah. Rasa dekat dengan Allah sudah tidak lagi terpatri di hati-hati mereka. Ketika sahabat Ali ra. ditanya, apa yang lebih keras daripada batu? Beliau menjawab, “hati yang mati lebih keras daripada batu”. Banyak orang yang turun daya menghafalnya  ketika hati mereka telah mati. Pekerjaan mereka hanya bisa tertawa, tertawa dan tertawa lagi. Mereka berusaha mencari kehinaan orang lain untuk menjadi bahan lelucon. Ketika itu, masa depan ( akhirat ) mereka hanya menjadi angan-angan belaka. Bahkan mungkin mereka sudah tidak memikirkan akhirat mereka lagi. Mereka sudah merasa bahagia dengan urusan dunia mereka. Mereka sangat terhibur dengan keadaan dunia yang dijalaninya saat ini. tak ada lagi pemikiran akan dosa dan pertanggung jawaban. Ini sangat relevan dengan sabda nabi yang intinya menyatakan bahwa orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir akan tidak akan bertuturkata kecuali yang bermanfaat.
Jadi, ketika orang yang suka mengumbar perkataan sia-sia bahkan sebuah kebohongan, maka dia dapat dipastikan tidak beriman kepada Allah dan hari akhir. Orientasi dunia jelas terlihat dalam tingkahlakunya. Mereka tidak akan mengingat akhiratnya. Mereka hanya percaya dunia dan akhirat menjadi urusan nanti.

4.)    menambah tabungan dosa.
Segala perbuatan yang menyalahi aturan secara logika akan diberikan balasannya. Sesuai dengan firman Allah SWT dalamAl Qur’an yang artinya :
barangsiapa yang mengerjakan kejahaan sebiji dzarrahpun ,niscaya niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.”( Q.S. Al Zazalah 8 )
Ayat diatas menerangkan pada kita bahwa sekecil apapun kesalahan  yang kita lakukan akan dihitung. Apalagi sebuah kesalahan yang dapat menimbulkan imbas kepada makhluk lain dimuka bumi ini.
Ada enam hal yang Allah sembunyikan dalam enam hal yang lain:
a.)    Allah menyembunyikan keridhaannya daam ketaatan padanya.
b.)   Allah menyembunyikan murka-Nya dalam kemaksiatan seorang hamba-Nya
c.)    Allah menyembunyikan Lailatur Qadar dalam bulan Ramadhan.
d.)   Allah menyembunyikan para wali diantara manusia.
e.)    Allah menyembunyikan kematian dalam umur hamba-Nya.
f.)     Allah menyembunyikan Shalat yang paling utama dalam shalat 5 waktu.

yang akan kita soroti adalah point nomer dua. Allah menyembunyikan murka-Nya dalam kemaksiatan seorang hamba-Nya. Ini dimaksudkan agar kita selalu menjauhi segala kemaksiatan sekecil apapun. Karena mungkin saja murka Allah berada pada kemaksiatan-kemaksiatan kecil yang kita lakukan.
Ini juga mengingatkan kita bahwa pemberian pahala dan dosa untuk manusia adalah hak prerogatif Allah. Sehingga kita jangan pernah menilai seseorang lebih buruk dari orang lain ataupun manusia satu lebih baik dari manusia yang lain. kita juga tidak boleh memvonis seseorang islam itu kafir dan pasti masuk neraka serta mendapat siksa yang sangat pedih. Ketahuilah hanya allah yang Maha tahu dan Maha pengampun.
Kita tidak tahu. Mungkin seseorang ahli maksiat melakukan kesalahan besar kemudian dia bertobat, menjadikan Allah melenyapkan murka-Nya atas orang tersebut. bisa jadi juga ketika kita melakukan kesalahan hanya sebesar dzarrah itu menjadikan kita dimurkai oleh Allah.
Ya, kita hanyalah makhuk yang serba tidak tahu. Bahkan kita tdak akan pernah bisa melihat kulit kepala kita sendiri tanpa bantuan cermin ataupun alat bantu yang lain.

5.)    HILANGNYA KEPERCAYAAN
Ada sebuah cerita. Seorang penggembala kambing yang sedang menggembalakan kambingnya, sedang asyik bermalas-malasan disuatu siang di atas batu besar. Karena bosan, dia ingin mengerjai orang dikampung tempat ia menggembalakan kambingnya. Seketika dia berteriak, “tolooo..ng! ada srigala…!!!!”
Sekonyong-konyong sebagian warga di kampung itu berbondong-bondong menuju sumber suara. Apa yang terjadi?
Gelak tawa si anak gembala menggema disekitar lapangan tempat sang kambing merumput. Dengan muka merah padam warga pun pulang kerumah masing-masing. Warga kampung itu geram karena merasa dikibuli seorang anak gembala ingusan.
Besok paginya, cuaca cerah seperti biasa. Si anak gembala mulai menggiring gembalaannya ke tanah lapang untuk merumput. Menjelang siang, dia mempraktekkan apa yang ia lakukan kemarin.
“Toloooo….ng!! ada srigala…!!”
Warga kampung itu kembali bergegas ke arena dimana suara itu berasal. Tak lama berselang, tawa riuh seorang anak gembala kembali terdengar seperi kemarin. Warga tambah marah dengan kejadian itu. Diantara warga sampai ada yang mengancam si anak gembala itu. Akhrnya keesokan harinya si anak gembala tidak lagi berbuat demikian karena takut dengan warga kampung itu.
Tiga hari kemudian si anak gembala  yang sedang asyik duduk dibatu biasa, mendadak kaget dan spontan berteriak. “toloo…ng  ada srigala memakan kambingku!!!!!”
Warga yang mendengar jeritan itu cuma berdiam dengan keadaan. Mereka tahu bahwa anak itu akan berbohong lagi. Mereka tetap dengan aktivitas mereka.
Sementara itu, si anak gembala hanya bisa menangis ketika satu persatu kambing tuannya dilalap oleh kawanan srigala.
Dari cerita diatas dapat diketahui bahaya lisan yang tidak digunakan secara tepat guna hanya akan membawa mudharat yang besar. Kepercayaan yang sudah runtuh akan susah untuk dibangun kembali. Akan lebih sulit membangun kepercayaan kembali setelah kepercayaan itu hancur berkeping-keping. 
Kita tengok seorang residivis (orang yang pernah dipenjara). Butuh waktu tahunan untuk membersihkan namanya kembali walaupun dia telah insyaf setelah ia dijebloskan ke dalam tahanan. Sebagian besar masyarakat merasa masih takut dengan bekas tahanan karena mereka menganggap penyakit kejahatannya akan kambuh lagi suatu saat nanti. Ini jelas ada disekitar kita.
Begitu juga pada orang yang suka bermain-main dengan perkataannya. Warga masyarakat akan malas mendengar celotehannya karena yang dikatakannya sekedar lelucon tak berbobot, hanya sebuah berita tanpa makna. Suatu saat ketika informasi penting datang dari mulutnya, orang lain hanya akan menganggap itu sebuah warta yang tidak perlu didengarkan. Padahal dia bermaksud baik untuk mengatakan informasi yang benar. .
Dalam suatu rapat dalam menetapkan sesuatu keputusan, pendapatnya tidak akan digubris. Malah bisa jadi, dia tidak akan pernah diundang untuk mengikuti rapat ataupun pertemuan-pertemuan lain. Kehadirannya tidak berarti apa-apa dalam roda kehidupan masyarakat. Ada aaupun tak ada itu tidak menjadi masalah bagi warga sekitar. 
Oleh karena itu, janganlah pernah mau  menjadi menjadi orang yang telah kehilangan kepercayaan dari orang lain. Hidup didunia ini tanpa ada kepercayaan dari orang lain seperti hidup sendiri. Hidupnya tak dihiraukan oleh warga sekitar.

6.)    MENIMBULKAN PERMUSUHAN
Lima bahaya diatas hanya berlaku bagi orang yang terjangkit penyakit lisan. Namun untuk bahaya yang ini tertuju pada 2 arah yaitu orang yang melakukan dan korbannya.
Ghibah merupakan penyakit lisan yang sering melanda manusia. Bahkan mungkin merupakan salah satu kegiatan sehari-hari manusia. Kita bisa menelaah bagaimana ketika manusia bergaul pasti sedikit ataupun banyak akan menyerempet kepada ‘ngrasani’ orang.
Pada saat arisan, memasak, membersihkan rumah, atau bahkan saat pengajian manusia hampir tak pernah luput dari membicarakan orang lain. Ketika membicarakan kehebatan atau keunggulan orang lain itu mungkin tak jadi masalah, tetapi yang menjadi persoalan adalah pembicaraan yang menyebabkan aib orang lain terbuka. Kekurangan seseorang mengemuka dan menjadi buah bibir masyarakat. Sebuah hal yang sangat rahasia menjadi rahasia umum dan konsumsi public. Jika itu terjadi, selanjutnya dapat dipastikan akan terjadi penyaluran kabar berita yang kemudian ditambah bumbu-bumbu agar terasa lebih ‘sedap’ dan nikmat jika masuk kedalam telinga pendengar. Dengan demikian, pastilah korban ghibah akan menjadi marah dan selanjutnya jelas akan menyulut api permusuhan.
Dalam islam sendiri sudah dijelaskan bahwa kita disuruh untuk bersatu padu dalam ali agama Allah dan tidak boleh tercerai berai.
Dengan adanya permusuhan seperi ini jelas akan merugikan kedua belah pihak. Bahkan mungkin pihak yang tidak ikut campur akan terkena imbasnya juga. Yang sebelumnya kedua belah pihak saling mengirimkan makanan ketika sedang membuat sesuatu, itu tidak akan terjadi lagi.
Satu kerugian kita temukan. Berkurangnya rizki ketika kita sedang  mengalami permusuhan dengan orang lain. Berkurangnya rizki ini bukan hanya rizki berupa uang ataupun makanan, tetapi juga rizki kasih sayang, perhatian, dan informasi. Yang sebelumnya ketika mau berangkat kerja kita ditawari naik mobilnya, sekarang tidak lagi. Ketika ada  informasi penting mengenai diri kita, dia tidak akan sudi menyampaikannya pada kita. Atau mungkin untuk kalangan mahasiswa yang biasanya melancong ke kota dari kampung yang cukup jauh demi menuntut ilmu. Ketika ada nilai keluar sementara dirinya ada di kampung, tak ada lagi yang memberikan informasi nilai. Ketika sakit di kost-an, tak ada lagi yang mau mengurusi kita. Mengambilkan minum, berbagi keluhan, dan lain-lain.  Kita bisa rasakan itu.
Semua itu jelas akan terjadi ketika api permusuhan sudah tersulut dan menjalar di hati-hati orang sedang marah.
Kerugian lain, hidupnya tidak akan tenang. Dia akan terus menggali kesalahan-kesalahan yang tentu saja digunakan untuk membalas dan membalas lagi. Sisa waktu akan dihabiskan untuk terus mengorek aib lawannya. Aib akan dibalas dengan aib. Seperti itu seterusnya sampai pipa perdamaian dihisap oleh kedua belah pihak yang berseteru.
Jika aib-aibnya terasa kurang seru dan terkesan biasa saja, maka yang berkembang adalah pemberitaan yang dilebih-lebihkan.  Fenomena ini sering terjadi dalam putaran zaman dan roda kehidupan ini.
Pihak lain juga bisa terkena akibat permusuhan kita. Bagaimana dia menjadi tempat curhat kedua belah pihak tentang kejelekan masing-masing lawannya. Dia layaknya ember yang harus menadah luapan emosi dan gunjingan orang yang sedang berseteru. Dia seperti kehabisan waktu dan tenaganya untuk dirinya sendiri. Waktu yang biasanya dia gunakan untuk tidur malam, kini dengan sangat terpaksa ia gunakan untuk mendengarkan pertengkaran yang seakan tiada ujungnya. waktu yang biasa digunakan untuk belajar, hanya menjadi waktu yang terbuang percuma karena suara ribut menjadi konsumsi sehari hari.

Apakah hanya itu saja akibat dari penyakit lisan? Tidak!!! Masih banyak akibat-akibat dari penyakit lisan yang lain. Disini hanya disebukan dan dijelaskan beberapa saja sebagai peringatan untuk kita mengenai lisan ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar