WELCOME

Manusia tidak diberikan ilmu oleh Allah melainkan hanya sedikit.

Kamis, 14 Juni 2012

Dan, nikmat tuhanmu yang mana lagi yang kamu dustakan?



            Dalam kehidupan kita selalu mengenyam suka duka, pahit manis, atau mungkin getirnya hidup. Semua fenomena yang terjadi itu hanyalah bagian penggembira dari rentetan episode hidup yang kita jalani. Kadang terasa hidup ini tak berguna lagi untuk dilalui dan di kali lain sebuah harapan akan hidup, membumbung tinggi meyakinkan kaki ini untuk terus melangkah menuju sebuah tujuan-tujuan kita singgah di muka bumi ini.
Khalifah. Salah satu tugas yang di bebankan oleh Allah yang gunung pun tak sanggup memikulnya, bumipun tak kuasa mengangkatnya, dan makhluk lainpun tak berani menyatakan kesanggupannya. Hanya manusia dengan segala kebodohannya menerima tanggung jawab ini. tanggungjawab yang terasa mudah untuk dijalankan tetapi sebuah kesulitan besar untuk menegakkan implementasinya.
Dialah yang maha adil. Semua dalam pengaturan-Nya. Tak mungkin seseorang maju berperang tanpa menggunakan senjata. Senjata yang digunakan juga harus sedemikian mutakhir sehingga dapat menyelesaikan persoalan-persoalan yang akan dihadapi nantinya.
Otak. Perangkat lunak yang paling mutakhir dan akan terus menjadi peralatan paling mutakhir sepanjang zaman dimana umat manusia masih mengisi dunia ini. ketika berbicara tentang otak, maka sungguh luar biasa keadaannya.
Kita bandingkan otak manusia dengan prosesor computer. Menurut prof. Samaun Samadikun, mikroprosesor memiliki lay out dua dimensi sementara otak memiliki tiga dimensi. Dalam mikroprosesor terdapat paling tidak lima juta transistor namun pada otak manusia terdapat sepuluh milyar neuron. Atau dua ribu kalinya! Neuron disini bertugas memindahkan sinyal ke syaraf pusat. Satu sel otak berhubungan dengan dua puluh lima ribu sel otak lainnya. Yang lebih hebat lagi, bahan penyusun dari otak menggunakan protein bukan bahan semikonduktor seperti pada mikroprosesor.
Berbicara tentang otak, kita mungkin bisa mengembangkan bahasan kita kepada akal. Akal diberikan oleh Tuhan karena kita adalah manusia. Intinya, manusia harus berakal! Akal bukan hanya daya pikir melainkan seluruh daya yang ada yang menyokong manusia untuk tidak terjerumus dalam kesesatan dan selalu melangkah dalam koridor kebenaran.
Akal adalah sebagai penguat dalam menjalankan kebenaran. Orang yang berakal tidak akan membiarkan dirinya begitu saja terjerumus dalam lubang kealpaan. Akan ada  upaya sekuat tenaga  bagi seorang yang memiliki akal untuk senantiasa berusaha menghindari atau bangkit dari keterpurukan baik dalam kedunawian terlebih ukhrawi. Tapi bukan berarti orang yang sesekali terjerumus dalam kenistaan adalah orang yang tidak berakal dan dikatakan bukan manusia yang utuh. Iman manusia biasa seperti kita bersifat fluktuatif. Tapi itu bukan pula menjadi pijakan kita untuk senantiasa berbuat salah kemudian bertobat dan kekhilafan terulang kembali.
Dalam berjuang kita, telah dibekali otak  yang kemudian dari situ kita dapat merasakan sesuatu, memberi respon, dan yang paling utama adalah digunakan sebagai alat untuk proses berpikir. Dengan berpikir maka kita akan mendapatkan cara mencapai tujuan.
Sebuah keseimbangan kembali muncul. Ketika Tuhan sekali lagi membekali diri kita dengan nafsu. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar